Dunia maya tidak lepas dari kutu digital / pests program. Bila Virus yang mengacaukan sistem computer sudah bermutasi menjadi alat penyerang sudah menjadi hal biasa. Tetapi saat ini yang lebih menjengkelkan saat ini adalah para kutu yang disebut dengan Adware, Spyware, Worm dan Trojan.
Disebut sebagai kutu internet karena sifatnya yang menganggu. Dan membuat gatal sebuah computer sampai menjadi parasit yang terus membebani sistem sebuah computer sampai network dan koneksi internet. Bila anda pertama kali merasakan computer begitu cepat, setelah beberapa waktu anda mengunakan internet maka computer perlahan lahan menjadi lambat. Kemungkinan kelambatan computer bisa disebabkan oleh salah satu jenis program Malware tersebut. Macam-macam kutu internet antara lain:
Adware
Adware ada iklan yang dimasukan secara tersembunyi oleh pembuat program. Umumnya program diberikan secara gratis, tetapi dengan kompensasi pemakai harus menerima iklan pada program.
Browser Helper Object
BHO adalah pembajak yang menampilkan link pada toolbar. Umumnya BHO melakukan kegiatan mata mata untuk mencatat kegiatan netter, disamping tampilan browser anda ditambahkan toolbar khusus
Browser Hijackers
Browser anda dimasukan link tertentu. Dan memaksa anda masuk pada sebuah situs walaupun anda sudah benar mengetik alamat situs yang anda inginkan. Artinya, program Browser anda secara tidak langsung sudah dibajak dan diarahkan ke situs tertentu
Dialer
Memasukan fungsi otomatis untuk koneksi internet, bahkan secara diam diam program dapat aktif sendiri. Untuk kerugian, tagihan telepon anda mendadak membengkak
Drive-by downloads
Program yang di install tetapi tidak diketahui oleh pemilik computer. Cara ini memanfaatkan kelemahan pada IE.
Homepage Hijacking
Ini paling banyak dilakukan oleh pembuat Malware. Dengan menganti alamat homepage pada default browser dan tidak dapat dirubah walaupun anda sudah melakukan set ulang.
Keylogger
Program yang masuk dan mencatat apa yang anda ketik. Dan mengirim data ke server pembuat Malware.
Suatu malam, saat semua anggota rumah itu sedang asik dengan kegiatannya masing-masing; Pemuda itu sedang menyelesaikan pengerjaan bab terakhir dari novel keduanya, adiknya sedang menyaksikan sebuah acara ajang kontes idola di televisi, ibunya sedang memasak nasi dengan rice-cooker di dapur, dan ayahnya sedang mendengarkan musik The Beatles dengan CD-player di kamarnya. Listrik tiba-tiba saja padam. Suara erangan kecewa mengalun beriringan dari mulut keempat manusia di dalam rumah itu. Erangan terkeras adalah erangan pemuda itu.
Ayahnya keluar dari kamarnya dan menuju ke pintu keluar dengan mengandalkan lampu senter sebagai alat penerangannya. Sementara itu pemuda itu dengan kesal menunggu agar lampu neon yang melekat di langit-langit kamarnya bisa berpijar kembali, dan baling-baling kipas angin di sampingnya bisa berputar lagi.
Tiba-tiba pemuda itu melihat lampu senter yang tersorot ke dinding kamarnya sebentar dan kemudian ke wajahnya. Pemuda itu memicing menahan silau. Lalu ia mendengar suara ayahnya, “Dari pusat.”
Pemuda itu mendesah kecewa. Lalu ia mendengar ayahnya berbicara pada adiknya yang sedang terpatung di ruang televisi, “Dari pusat,” katanya. Ia mendengar suara erangan panjang adiknya.
Ketika pemuda itu keluar dari pintu kamarnya ia melihat ayahnya sedang berdiri di ambang pintu dapur dan berbicara kepada ibunya, “Dari pusat.”
Pemuda itu tidak tahu apa yang harus diperbuatnya kemudian. Lalu dia kembali ke dalam kamarnya untuk mengambil benda peraduannya, rokok. Tapi ketika dia mengangkat bungkus rokok yang tergeletak di meja komputernya dan ia mengkocok-kocoknya, ia tidak mendengar suara batang rokok yang membentur-bentur dinding dalam bungkus rokok itu. Wajahnya meringis sebentar. Kemudian ia berinisiatif untuk membelinya di warung sebelah rumahnya. Ia membuka laci meja komputernya dan segera ia temukan selembar uang seribuan. Ia meraihnya dengan cepat dan segera beranjak dari kamarnya.
Dengan hati-hati ia melangkah agar ia tidak menabrak benda yang ada di depannya saat ia melangkah. Tangannya meraba-raba ke depan. Matanya lama-lama mulai bisa beradaptasi dengan kegelapan itu. Dan pemuda itu menyadari bahwa ia telah berada di ruang tamu. Ia segera melihat pintu depan yang sedang dalam keadaan terbuka itu. Pemuda itu pun keluar dari rumahnya yang gelap.
Ia kenakan sendal jepit yang sedang tergeletak di teras itu tanpa menggunakan tangannya. Setelah ia rasa jari-jari kakinya telah menjepit karet sendal itu dengan benar, ia pun melangkah ke luar dari pekarangan rumah itu.
Di luar, ia menyaksikan rumah-rumah tetangganya juga sedang dalam keadaan gelap gulita. Beberapa rumah telah memasang lilin sebagai penerangan alternatif. Beberapa orang terlihat sedang duduk dan berbincang di teras rumah mereka masing-masing. Pemuda itu berbelok ke warung di sebelah rumahnya.
Ternyata warung itu tutup. Kayu-kayu penutup warung itu memampangkan angka-angka 1, 2, 3, dan seterusnya. Maka pemuda itu segera berbalik arah ke rumahnya sambil bersungut-sungut.
Setibanya di depan pagar rumahnya, ia melihat ayah, ibu, dan adiknya sedang duduk di lantai teras rumah mereka. Pemuda itu pun segera memasuki pekarangan rumahnya.
Ia membuka sendal jepitnya dan menaruhnya kembali tidak pada tempat asalnya. Ketika dia hendak masuk ke dalam rumah, ayahnya berseru padanya, “Di dalam panas.”
Pemuda itu melihat ke dalam rumahnya yang gelap gulita itu. “Apa yang bisa kulakukan di dalam sana?” pikirnya. Akhirnya ia memutuskan untuk bergabung bersama anggota keluarganya yang lain duduk melantai di teras.
Ayah dan ibunya sedang bernostalgia tentang masa muda mereka. Dan adik perempuannya mendengarkan sambil terkekeh-kekeh. Tanpa direncanakan, pemuda itu mendengar ayahnya yang sedang bercerita dengan gaya yang lucu. Tiba-tiba saja dia merasa ingin tertawa karena mendengar cerita ayahnya yang ia anggap lucu, maka meledaklah tawanya bersama dengan tawa anggota keluarga yang lain.
Akhirnya mereka saling bertukar cerita. Yang lain mendengarkan dengan seksama saat satu anggota keluarganya sedang berbicara. Dan itu berlangsung selama berjam-jam tanpa terasa.
Sekonyong-konyong ayahnya memandang ke langit. Serta merta anggota keluarga yang lain mengikuti pandangan kepala keluarga itu. Di atas sana, bintang-bintang sedang berserakan membentuk rasi-rasi yang tidak terhitung jumlahnya. Dan mereka semua sangat terpukau dengan keindahan malam itu. Dalam diri masing-masing mereka menyadari, bahwa sebetulnya keindahan ini ada setiap malamnya, tapi mereka tidak pernah menyadarinya.
Tak lama kemudian lampu neon di eternit teras itu menyala. Begitu juga dengan lampu rumah-rumah tetangga mereka. Suara seruan bahagia terdengar dari beberapa rumah. Suara televisi segera terdengar dari dalam rumah mereka.
Tiba-tiba pemuda itu berdiri dan masuk ke dalam rumah. Sementara itu anggota keluarganya yang lain masih asyik berbincang di sana.
Ketika ia ingin memasuki kamarnya, ia mengurungkan niatnya. Lalu ia menuju ke ruang televisi. Ia raih remote-control yang tergeletak di atas sofa. Dan ia menekan tombol berwarna merah. Gambar para peserta ajang kontes idola yang sedang menangis itu segera lenyap dari layar kaca. Lalu ia melangkah lagi ke teras untuk bergabung bersama anggota keluarganya yang lain.
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)

0 komentar:
Poskan Komentar